
''Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa
(mengurus) rezekinya sendiri. Sehingga, Allahlah yang harus memberi rezeki
kepadanya dan kepadamu, Dialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'' (QS Al
Ankabut [29]: 60).
Betulkah ekonomi yang tak menentu sekarang ini yang
menyebabkan 'penyakit' panik sangat mudah menyerang bangsa kita? Barangkali tidak,
jika kita menyelam ke inti persoalannya, bahwa bukan semata-mata krisis
ekonomi, melainkan kita umumnya tidak memiliki keyakinan. Karena tidak
optimistis, kita menjadi gamang, marah, takut, dan khawatir yang berlebihan.
Selanjutnya, tidak adanya keyakinan itu kadang mendorong kita nekat bertindak
yang tak terhormat.
Tanpa keyakinan, manusia tak bisa hidup. Akan terus
diselimuti keragu-raguan yang mematikan. Keraguan itu menjadi sebab dari
ketidaktenangan hidup dan perasaan tidak aman. Maka, kita harus yakin bahwa
kita hidup di dunia ini bukan kemauan kita sendiri. Bukan karena kemauan orang
tua. Juga tidak atas usulan siapa pun juga. Kita lahir dan hidup di dunia ini
karena kehendak Allah.
Karena lahir dan hidup atas kehendak-Nya, maka Dialah yang akan
mengurus kita. Jika Allah telah menciptakan kita, maka Dia tentu yang
memelihara kita. Keyakinan ini harus ditanamkan pada diri kita, agar tidak
takut menghadapi kesulitan hidup. Bukankah kehidupan itu sendiri merupakan
bagian dari ciptaan Allah?
Bagaimanapun hebatnya krisis, tak perlu takut dan khawatir
kekurangan rezeki Allah. Yang menjamin rezeki kita selama ini bukan manusia
atau negara. Melainkan Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kepada-Nya
kita meminta dan mohon bantuan serta perlindungan-Nya. Jika suatu persoalan
diselesaikan dengan emosi, hasilnya pasti merugikan masyarakat dan diri
sendiri. Bila kini kita diuji dengan krisis ekonomi, maka dengan modal
keyakinan kita gerakkan seluruh potensi yang kita miliki untuk mengatasinya.
Memang diperlukan sedikit kesabaran, di samping kerja keras
dari semua komponen di negeri ini. Jaga kesatuan dan persatuan, dengan itu kita
bisa maju. Sebaliknya, jika kita terpecah dan saling menyalahkan kehancuran
akan datang. ''Bersatu (jamaah) akan mendapatkan rahmat, dan berpecah belah
mendapatkan bencana (azab).'' (HR Ahmad). Dan, siapa yang akan menyanggah janji
Allah bahwa dia menjamin akan mengangkat setiap problem kita? ''Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.'' (QS Al Insyirah [94]: 5-6).
Ayat tersebut diulang sampai dua kali secara berturut-turut,
yang maksudnya untuk menyakinkan kita bahwa bersama kesulitan itu ada solusi
yang terbaik. Masihkan kita tidak yakin, masihkan kita gamang melihat hidup?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar